Menjadi Apapun Dirimu 6/14/2008

Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang, sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohon-lah, yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah, sebab ia akan tetap tegar meski bara mentari terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang menerpa kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kaut untuk menopang. Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia akan senantiasa memberikan buah-buahan yang manis mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknyaia kan menggetarkan ujung samudra. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang mengganggu. Sebab sikap diamnya akan tenang laut seisinya.

Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itupun tak mudah. Sebab ia harus melayangi tinggi menembus langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa rasa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih tanpa cacat.

Sebab ia tak takut hadapi angin dengan tubuh mungilnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tidak mudah. Sebab ia berada dalam samudra yang dalam. Sebab itu dia tidak mudah dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia bersinar meski tenggelam di kubangan hitam.

Menjadi kupu-kupu-lah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia akan melalui semedi panjangtanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan dari segala yang menyenangkan hingga kemudian tiba saat keluar.

Karang akan hadapi ujian, terik sinar matahari juga gelombang.

Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya.

Paus akan menggetarkan samudra hanya dengan sedikit gerakan.

Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi.

Melati selalu ikhlas menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga lain dengan segala kecantikannya.

Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat diam adalah kejenuhan.

Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya dari kiri, kanan, depan dan belakangnya.

Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat besar tubuhnya dalam luas samudra. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang dan justru terlihat indah dengan segala keserdahanaan. Mutiara tetap bersinar, kupu-kupu atau apapun yang kamu mau, tetapi sadari kehambaanmu.



0 komentar:

Posting Komentar