
Posting TerakhirArsip BlogLabels
Pesan KesanLinksKomentar Terakhir |

| Anak Berbakat Sekaligus | 6/14/2008 |
|
Filed under:
Kisah,
Pendidikan
|
|
Selama ini masyarakat kita mempunyai anggapan bahwa keberbakatan selalu menunjukkan pada keunggulan dalam arena tertentu saja tanpa memperhatikan kenyataan yang ada bahwa seseorang yang masuk dalam kategori berbakat ada sebagian yang mengalami kesulitan belajar sehingga mereka biasanya memperoleh prestasi di bawah potensi besar yang ada di dalamnya. Banyaknya anak berbakat berprestasi kurang tidak diketahui dengan pasti, tetapi angka-angka yang diperoleh dari survey dan penelitian cukup mengejutkan. Di Amerika Serikat diperkirakan jumlah mereka berkisar berkisar antara 15 sampai 50 persen (Marland, 1972), di Inggris sekitar 25 persen (Pringle, dikutip Whitemore, 1980). Studi Yaumil Achir (1990) di dua SMA di Jakarta menunjukkan bahwa 39 persen dari siswa berbakat yang diidentifikasi berdasarkan tes inteligensi dan tes kreativitas termasuk underachievement.
Fenomena tersebut begitu kontradiktif, karena permasalahan keberbakatan menjadi lebih kompleks dengan adanya pernyataan mengenai kemampuan yang tinggi dalam intelektualitas sekaligus dengan prestasinya yang rendah sebagai akibat dari kesulitan dalam belajar.
Kisah tersebut dapat kita telaah pada nama-nama terkenal seperti Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison yang merupakan anak berbakat sekaligus juga merupakan anak berkesulitan belajar. Thomas Alva Edison misalnya, jika menilik sejarah hidup dari Thomas Alva Edison, dahulu Beliau pernah dianggap “Idiot” oleh teman-temannya, sedangkan perhatian guru yang kurang, membuat Thomas Alva Edison hanya bertahan selama 3 bulan sekolah, selebihnya Ia belajar bersama ibunya. Pada waktu itu pihak sekolah pun merasa tidak mampu mendidik Thomas dengan menyerahkannya kembali pada orangtuanya. Sambil menarik tangan Thomas, ibu Thomas yaitu Marlyn Edison mengatakan : “Anda tidak akan memahami apa yang anda katakan. Sesungguhnya anakku lebih cerdas ketimbang apa yang anda perbuat, dan di dalam dirinya ada ”penyakit”. Saya akan membawanya pulang dan mengajarnya sendiri. Kemudian akan saya perlihatkan kepada anda bakat apa yang tersembunyi di dalam dirinya. ”
Perlu diketahui keluarga Edison tergolong miskin, dan suaminya galak dan acuh tak acuh. Praktis nyonya Edison mendidik Thomas seorang diri : sekolah, teman dan Bapaknya sendiri tidak memperdulikannya. Kata-kata nyonya Edison ternyata menjadi kenyataan. Thomas Alva Edison berhasil melahirkan 1.093 barang baru untuk generasi sezamannya. Dikemudian hari ketika puncak produktivitasnya Thomas berkata : ” Sejak masa kanak-kanak aku sadar alngkah mulianya Ibu. Ketika guru menyebutku ”Idiot”, Ia membelaku. Aku sangat bertekad untuk membuktikan bahwa Ia tidak memiliki ide atau pikiran yang salah mengenai diriku. Pengalaman yang telah Ibuku alami sebagai seorang guru telah mengungkap banyak sekali rahasia watak manusia. saat itu aku selalu ceroboh. Jika Ibu tidak memberi perhatian, maka aku akan menyimpang. Bagaimana kebaikannya dan ketekunannya merupakan kekuatan efektif yang melindungiku dari penyimpangan dan salah jalan.”
Selain itu, ada lagi cerita dari saang penmu teori Reltivitas yaitu Albert Einstein. Jika kita menilik sejarah hidupnya, Einstein dahulu pernah dikeluarkan dari sekolahnya dikarenakan mengalami kesulitan berbicara dan membaca atau biasa disebut Disleksia, Ia memutuskan untuk bekerja pada salah satu perusahaan penerbitan buku-buku ilmiah. Sehingga dari sana Ia belajar sendiri disela-sela tugasnya pekerjaannya sehingga pada suatu hari Beliau berhasil menemukan teori Relativitas, dan pada akhirnya beliau berhasil mendapatkan nobel penghargaan dari hasil penemuannya yang fenomenal tersebut.
Melakukan identifikasi pada anak-anak keistimewaan ganda ini memang tidak mudah, karena orangtua maupun guru seringkali lebih memfokuskan pada kelemahan si anak, dan sangat sedikit perhatian terhadap kelebihannya. Sejumlah peneliti yang tertarik pada anak dengan keistimewaan ganda ini, memfokuskan pada skala Weschler Intelligence Scale For Children Revised (WISC-R) untuk mengidentifikasi. Namun data dari penelitian ini menunjukkan hasil pola yang tidak konsisten. Schiffd(1981) malaporkan bahwa catatan tentang kesenjangan skor verbal performance (V-P) dengan verbal lebih tinggi, sementara Waldron (1990) menemukan bahwa kesenjangan yang signifikan antara skor verbal dengan skor performence bukan merupakan indikasi yang baik pada anak dengan kesulitan belajar. Schiffd dkk menyimpulkan dalam laporan penelitiannya bahwa kelompok anak yang memiliki IQ Superior sekaligus Underachiever menampakkan kemampuan verbal di atas rata-rata dan mempunyai sejumlah kemampuan dan bakat kreatif, tetapi ada indikasi kelemahan pada area tertentu dalam berpikir. Menurut Waldron, anak-anak ini cenderung tergantung pada kemampuan visual untuk mengingat kata dan analisa. Mereka juga mempunyai kelemahan dalam beberapa hal auditory, seperti membedakan suara dan Short Term Memory.
Secara umum, seorang anak berkemampuan yang sekaligus memiliki ketidakmampuan pada hal yang lain. Mereka secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga kategori. Yaitu pertama, anak-anak berbakat yang memiliki beberapa kesulitan dalam belajar di sekolah dan sering dikatakan sebagai anak yang Underachiever. Kelompok ini mudah teridentifikasi sebagai anak berbakat karena memiliki skor IQ yang tinggi yang dalam perkembangan selanjutnya terjadi kesenjangan yang besar antara harapan dan prestasi. Kelompok yang kedua adalah anak-anak yang diketahui berkesulitan belajar, dan tidak pernah teridentifikasikan sebagai anak Gifted. Jika bakat yang luar biasa tidak diketahui, maka kelebihan-kelebihannya tidak pernah menjadi fokus dalam pendidikannya, sehingga tidak pernah teraktualisasikan. Kelompok ketiga adalah anak yang tidak teridentifikasi sebagai anak berbakat maupun sebagai anak berkesulitan belajar. Mereka lebih nampak sebagai anak yang berprestasi rata-rata. Kelompok terakhir ini merupakan kelompok terbesar, mereka berprestasi pada level yang tidak menguntungkan, jauh di bawah potensi yang dimilikinya (Baum, 1990; Broudy & Mills,1997).
Oleh karena itu, diperlukan lingkungan yang mendukung baik itu lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah agar potensi-potensi yang dimiliki oleh anak-anak berbakat dapat teraktualisasikan dengan baik dengan cara meminimalisir hambatan yang anak-anak dengan dua keistimewaan ini miliki, yaitu Berbakat sekaligus Underachievement.

0 komentar:
Posting Komentar