Deklarasi Penyandang Cacat Sedunia 12/26/2008

Pada tanggal 3 Desember yang lalu, kita memperingati hari cacat sedunia (Disability Day). Pada hari tersebut kita diminta untuk merenungi sejenak tentang kehidupan sehari-hari yang kita lalui. Sejauh manakah kita terlibat dalam membantu para penyandang cacat (penca) yang ada di negara kita, kota kita atau lingkungan sekitar kita tinggal?
Undang-undang Indonesia No.4 tahun 1997 tentang menjelaskan bahwa penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari
a. penyandang cacat fisik
b. penyandang cacat fisik mental
c. penyandang cacat mental



Dalam undang-undang ini juga menegaskan bahwa penyandang cacat merupakan bagian dari masyarakat indonesia yang juga memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama. Mereka juga mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek penghidupan. Pada pasal 6 dijelaskan bahwa setiap penyandang cacat berhak memperoleh :
1) pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis dan jenjang pendidikan;
2) pekerjaan dan penghidupan layak sesuai dengan derajat kecacatan, pendidikan dan kemampuannya;
3) perlakuan yang sama yang berperan dalam pembangunan dan menikmat hasil-hasilnya;
4) aksesbilitas dalam rangka kemandiriannya;
5) rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial, dan;
6) hak yang sama dalam menumbuhkembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya; terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Lewat tulisan kami ini, Kami menghimbau rekan-rekan semua untuk lebih peka terhadap isu-isu yang berhubungan dengan kecacatan.
Jangan ada diskriminasi kepada mereka yang merupakan saudara-saudara kita semua.
Berikut ini merupakan sebuah puisi yang menyentuh buah karya Bapak Irwan Dwi Kustanto (Wakil Presiden Direktur yayasan Mitra Netra) diambil dari buku antologi terbarunya kumpulan sajak cinta ”Anginpun Berbisik”
Sungguh! Jika dihayati dan direnungkan secara mendalam akan selalu menginspirasi dan menumbuhkan sensitivitas kita sebagai seorang manusia seutuhnya......

Jangan Lepaskan Jemarimu

Jangan lepaskan jeamarimu dari dua bola mataku
Aku akan terus berjalan di sela kerlipmu
Mengatur nafas untuk menghela nasib
Kudengar dari balik fajarmu, sepotong doa yang terlukis
Pada langit subuh bergemuruh alunan adzan, begitu
Tabah
Aku akan berlari menghampirimu embun duhamu
Yang berteriak di sela gemuruh takdirku,
Seorang buta yang hanya menunggu
Saat gugurnya daun jati usai adzan subuh
Yang ranting-rantingnya menimpa rerumputan
Saat menanti gerimis
Yang akar-akarnya tak lagi merindukan butiran air
Tergelincir
Dari jemarimu yang basah
Hingga suaramu yang membangunkan mimpiku yang mene
Tes
Pada daun jati, lalu mematahkan ranting
Dan membelah akar-akarnya,
Untuk sebuah harapan, pintaku
Jangan lepaskan jemarimu dari dua bola mataku


Selengkapnya....